Cara Edan Membaca Koran


“Anda gila, anda tidak waras, tapi mengapa anda mampu membaca koran dari hari ke hari?” Sinyal heran itu bertautan dengan pernyataan, “Anda memang gila, anda memang tidak waras, karena terus ngobrol ketika berada di kantor atau di sekolah, tanpa menunjukkan hasil kerja dan hasil belajar yang konkret!”

Membaca koran kerap disebut-sebut sebagai doa pagi bagi masyarakat modern di tengah serbuan perangkat jejaring sosial serba elektronis. Perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) – istilah yang lahir dari rahim Orde Baru – tidak ada artinya ketika seseorang membaca koran.


Koran menjadikan nona XYZ dan mister ABC sebagai “Kita”, karena keduanya membaca berita-berita yang sama. Di tengah krisis kebersamaan karena iming-iming kredo bahwa kelompok kami lebih baik ketimbang kelompok lain, maka silakan berterimakasih kepada dewa Hermes.


Dewa Hermes dalam mitologi Yunani itu telah menafsirkan kehendak dewata (orakel) dengan bantuan kata-kata manusia. Alasannya, manusia telah terkutuk untuk memberi makna, kata filsuf Merleau Ponty. Caranya? Silakan saja membaca koran dengan menempuh cara-cara gila atau cara-cara tidak waras.


Setelah membaca aneka berita koran, orang dapat memuji, mengkritik, menertawakan, mencibir bahkan menyulut dendam kesumat sesamanya. Terlontarlah kata-kata, “Peristiwa itu seharusnya tidak boleh terjadi. Ah, dia lagi, dia lagi yang muncul di pemberitaan koran”.


Mereka yang tersulut emosinya lantaran membaca koran boleh jadi dapat disebut sebagai orang sinting yang menyalakan lentera di siang bolong kemudian berlarian ke pasar dan berteriak tanpa henti, “Saya mencari Yang Baik”. Mereka murid dari filsuf Nietzsche yang memilih sosok orang gila untuk mengumumkan kematian Tuhan.


Terbentang warta mengenaskan bahwa seseorang lulusan master (S2) dari salah satu universitas beken di Australia, diciduk polisi karena mencuri di 10 rumah. “Dia merupakan pencuri spesialis yang menyasar rumah yang ditinggal pemiliknya,” kata Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Yazid Fanani, sebagaimana dikutip dari harian Warta Kota (31/5).


Tergelar warta mengerikan ketika empat orang meregang nyawa akibat tertabrak bus metromini selama bulan Mei 2011 akibat sopir yang sembrono. Kasus terakhir menimpa seorang pengendara motor di Jalan Kembangan Kencana, Jakarta Barat, Minggu (29/5) pagi.


“Korban tampaknya melaju kencang dan menyenggol motor lain. Korban jatuh kemudian ditabrak metromini yang sedang melaju kencang,” kata Kasat Lantas Polestro Jakarta Barat Komisaris Sungkono. (Warta Kota,30/5)


Terbentang warta pengingatan bahwa pemberantasan penyakit investasi membutuhkan komitmen panjang birokrasi. “Pemerintah pusat dan daerah harus bisa memfasilitasi kepentingan investor dengan menunjukkan bukti konkret. Misalnya, memberi kepastian tata ruang dan layanan perizinan dalam satu pintu. Tidak mungkin membangun megaproyek tanpa adanya kepastian lahan,” kata Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), sebagaimana dikutip dari harian Bisnis Indonesia (30/5).


Yang mengenaskan dari sang pencuri jebolan perguruan tinggi luar negeri, yang mengerikan dari ulah sang sopir metromini dan yang memprihatinkan dari persoalan klasik bagi para investor, ujung-ujungnya berkutat kepada seperangkat pembedaan (distingsi) ketika seseorang membaca koran.


Belum cukup seseorang melontarkan pujian, melayangkan kritik, menyunggingkan senyum, bahkan mengobarkan denda membara ketika dia membaca koran sementara sejumlah peristiwa terpapar begitu edan dan begitu tidak waras. Tinggal sekarang, bagaimana cara edan membaca koran dengan menggunakan pembedaan-pembedaan.


Di mata filsuf Auguste Comte, distingsi mencakup yang nyata dengan yang khayal, yang pasti dengan yang meragukan, yang tepat dengan yang kabur, yang berguna dengan yang sia-sia.


Silakan pilih dan gunakan pembedaan-pembedaan itu ketika pembaca mau berkontemplasi saat membaca koran pada pagi hari bagi bekal menjalani ziarah hidup.


Ketika membaca koran, di mana kebenaran? Nietzsche mengatakan kepercayaan akan kebenaran adalah kegilaan, dan yang mencirikan kegilaan adalah kebutaan. Gila atau tidak waras, artinya menyimpang dengan yakin, dan dengan penuh keyakinan mau mengikuti penyimpangan itu dengan membutakan hati.


Gila bukan sebatas tidak lurusnya pemikiran. Mereka yang membutakan diri dengan terus berilusi boleh disebut sebagai orang gila. Apalagi bila dia tidak tahu bahwa dirinya itu gila, sehingga nalar dibutakan dan hati digelapkan. Bahasa populernya, gelap hati!


Cara edan membaca koran merujuk kepada fatsun bahwa kegilaan dan kebutaan hati hanya ada dalam dunia yang sedang berkonflik, yaitu konflik pikiran.


Persoalan kegilaan menyentuh persoalan nalar. Bukankah koran disesaki dengan berbagai warta sarat konflik pikiran dalam berita kriminalitas, politik, ekonomi, gaya hidup, ibukota sampai olah raga. Tipsnya, pilihlah satu sampai tiga berita, kemudian carilah dan temukan apakah ada konflik pikiran dan apakah berita-berita itu memuat distingsi.


Jangan lupa bahwa Nietzsche punya fragmen menohok ulu hati bagi mereka yang mau berwaras hati dan berlurus hidup ketika membaca koran. Dan orang gila itu diam dan terbengong sendiri di tengah kerumunan orang banyak di pasar. Ucap orang gila itu, “Saya datang terlalu awal….” . 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s